Sungai Dukupuntang Keruh oleh Limbah Batu Alam
Depok, PIXCELTULISAN - Siang itu, suara mesin pemotong batu bergemuruh di sepanjang jalan kecil Desa Dukupuntang. Debu beterbangan, sementara aliran air bercampur lumpur kehitaman mengalir deras menuju sungai kecil di sisi pemukiman. Sungai yang dahulu jernih dan menjadi tempat anak-anak bermain, kini berubah keruh dan berbau.
“Dulu airnya bening, bisa dipakai mandi atau sekadar nyuci baju. Sekarang sudah enggak layak, penuh lumpur sisa batu,” keluh Lajat (48), warga Dukupuntang, saat ditemui Pixcel Tulisan, Minggu (24/7).
Dari Pusat Ekonomi ke Sumber Masalah
Dukupuntang dikenal sebagai salah satu pusat industri batu alam di Cirebon. Hampir setiap rumah di desa ini terlibat dalam usaha pemotongan batu andesit, templek, maupun granit. Kegiatan itu mendatangkan rezeki, tapi di baliknya muncul persoalan baru: limbah hasil pengolahan yang langsung dibuang ke sungai.
Di beberapa titik, terlihat gundukan pasir dan lumpur mengendap di dasar sungai. Air irigasi yang mengalir ke sawah pun kerap tersumbat.
“Saluran air ke sawah kami sering mampet. Tiap minggu harus dikeruk supaya padi tetap terairi,” kata Lajat sambil menunjukkan lumpur yang menumpuk di pintu saluran irigasi.
Ekosistem yang Terkikis
Tidak hanya petani, nelayan ikan kecil yang biasa menjaring di sungai pun terkena dampak. Beberapa warga mengaku sulit menemukan ikan mujair atau nila yang dulu banyak hidup di perairan itu.
“Sekarang paling dapat ikan kecil, itu pun jarang. Airnya terlalu keruh, ikan enggak betah,” ujar Lajat lirih.
Pantauan di lapangan menunjukkan, permukaan sungai berubah kecokelatan dengan aroma lumpur pekat. Anak-anak yang dulu gemar bermain air di sore hari kini memilih menjauh.
Harapan Akan Perubahan
Para warga Dukupuntang berharap industri batu alam tetap bisa berjalan tanpa harus mengorbankan lingkungan. Mereka menanti adanya cara sederhana untuk mengurangi pembuangan limbah langsung ke sungai, misalnya dengan membuat kolam penampungan atau penyaringan sederhana.
“Kalau sungai rusak, apa yang akan diwariskan buat anak cucu nanti?” kata Lajat menutup perbincangan.
