Depok, PIXCELTULISAN - Di sebuah lapangan desa di Kecamatan Gegesik, Cirebon, suara rebana dan lantunan shalawat menggema. Sore itu, warga sudah berkumpul dengan wajah ceria, sebagian menyiapkan panggung, sebagian lain sibuk menata makanan untuk para tamu. Inilah suasana khas Muludan, tradisi tahunan yang sudah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Gegesik.
Muludan bukan sekadar peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bagi warga Gegesik, acara ini adalah jembatan untuk mempererat silaturahmi, menyalurkan rasa syukur, dan berbagi kebahagiaan.
Lebih dari Sekadar Ritual
Hafid, seorang tokoh masyarakat yang juga menjadi panitia acara, bercerita bahwa tradisi ini sudah dijalankan turun-temurun.
“Bagi kami, Muludan adalah cara menjaga warisan leluhur. Di sini bukan hanya doa bersama, tapi juga ada khitanan massal, santunan yatim, sampai karnaval seni. Semua warga terlibat, dari anak-anak sampai orang tua,” tutur Hafid.
Kegiatan ini biasanya berlangsung selama beberapa hari. Malam hari diisi dengan pengajian dan zikir bersama, sementara siang hari warga disibukkan oleh lomba olahraga, pentas seni, dan persiapan karnaval. Semaraknya kegiatan mencerminkan semangat gotong royong yang masih kuat di desa.
Makna bagi Petani
Sebagian besar warga Gegesik berprofesi sebagai petani. Hafid menuturkan, doa-doa yang dipanjatkan dalam Muludan selalu membawa harapan sederhana hasil panen yang baik dan keluarga yang sejahtera.
“Kami hidup dari sawah. Jadi ketika berdoa dalam acara Muludan, yang terbayang itu sawah kami, tanaman padi kami, dan harapan agar diberi berkah panen. Itu doa yang sama-sama kami panjatkan setiap tahun,” katanya.
Dengan begitu, Muludan tak hanya bernuansa religius, tapi juga menyentuh aspek ekonomi dan keseharian warga.
Ajang Kreativitas dan Silaturahmi
Menariknya, Muludan di Gegesik juga menjadi ajang kreativitas. Pemuda-pemudi desa biasanya tampil dalam karnaval dengan kostum unik atau pertunjukan seni tradisional. Anak-anak menunggu momen panggung gembira, sementara orang tua menikmati suguhan kesenian sambil bercengkerama dengan tetangga.
“Buat anak muda, ini ruang untuk menunjukkan bakat. Biar mereka merasa tradisi itu bukan sesuatu yang kuno, tapi bisa dikemas jadi menarik,” jelas Hafid.
Menyemai Nilai untuk Generasi
Di tengah arus modernisasi, banyak tradisi lokal mulai ditinggalkan. Namun Muludan di Gegesik tetap bertahan. Bagi Hafid dan warga lainnya, menjaga tradisi bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan bentuk nyata menjaga identitas desa.
“Anak-anak sekarang sudah kenal gadget dan hiburan digital. Tapi ketika Muludan tiba, mereka ikut terlibat. Dari situ mereka belajar bahwa ada kebersamaan yang tak bisa digantikan layar ponsel,” kata Hafid sambil tersenyum.
Harmoni dalam Kehidupan
Saat malam karnaval tiba, dentuman rebana berpadu dengan tawa anak-anak yang berlarian di sekitar panggung. Para ibu sibuk menyiapkan hidangan sederhana, sementara para bapak duduk bersila, larut dalam alunan shalawat.
Bagi masyarakat Gegesik, Muludan adalah perayaan yang menyatukan agama, budaya, dan kebersamaan. Tradisi ini bukan hanya mengenang kelahiran Nabi, tetapi juga cara untuk merayakan kehidupan: kehidupan yang penuh doa, syukur, dan solidaritas.
(DIKY FAHILLAH)
