Aku Tidak Pernah Sendiri

Aku Tidak Pernah Sendiri

Foto: Unsplash Igor Rodrigues


Depok, PIXCELTULISAN - Aku muncul ke dunia lebih awal dari yang seharusnya. Menurut banyak orang, aku lahir prematur. Para dokter menyebutkan, peluangku untuk bertahan tak sebaik anak-anak yang lahir pada waktu yang tepat. Namun, ibuku meyakinkan bahwa aku merupakan anak yang gigih bahkan sebelum mengeluarkan tangisan pertama, aku sudah menunjukkan keinginan untuk hidup.


Pada fase awal kehidupanku, aku tidak berada dalam pelukan orang tua, melainkan terletak di ruangan medis yang steril yang disebut NICU. Tubuhku terlihat kecil dan nyaris transparan. Aku bertahan dikelilingi oleh peralatan medis, selang, dan suara mesin monitor yang tiada henti. Ibu dan Ayah hanya dapat menatapku dari balik kaca, sambil menanti setiap hari dengan penuh harapan yang disertai kekhawatiran. Namun di tengah rasa takut itu, mereka tidak pernah berhenti berdoa.


Aku tentu saja tidak mengingat waktu-waktu tersebut. Namun, kisah kelahiranku telah menjadi cerita yang sering didengar saat aku kecil. Aku akan duduk sambil memeluk lutut, mendengarkan Ibu bercerita tentang Ayah yang menepuk kaca inkubator setiap pagi, dan bagaimana Ibu tak henti-hentinya membaca doa sambil memperhatikanku di balik masker bedah. Saat aku tumbuh, bukan hanya fisik yang sehat yang aku dapatkan, tetapi juga cerita tentang betapa kerasnya usaha mereka untukku.


Syukur Nya, aku tumbuh tanpa cacat. Tak ada gangguan paru-paru, tidak ada gangguan penglihatan, dan tidak ada penyakit jantung seperti yang pernah dikhawatirkan. Tetapi sejak kecil, aku selalu dijaga dengan ekstra dibandingkan anak-anak lainnya. Ibu sering melarangku untuk bermain lama di luar rumah. Ayah selalu memastikan aku mendapat waktu tidur cukup dan makan pada saatnya. Terkadang, aku merasa terlalu dibatasi, seolah dianggap rentan. Namun seiring bertambah dewasa, aku memahami bahwa itu bukan karena mereka meragukanku, melainkan karena mereka sangat ingin menjaga keselamatanku.


Keluargaku bukanlah keluarga kaya. Rumah kami cukup sederhana, tetapi selalu penuh kehangatan. Setiap pagi terisi dengan aroma nasi goreng atau teh manis. Ibu bangun lebih awal dari siapapun, memastikan semuanya siap sebelum aku berangkat sekolah. Ayah, meskipun jarang berkomunikasi lembut, selalu siap membantuku menyiapkan sepatu atau menepuk punggungku sebelum aku keluar rumah. Kasih di keluargaku bukanlah tentang kata-kata, tetapi lebih kepada perasaan yang mendalam.


Masa SMP dan SMA adalah periode ketika aku mulai mengeksplorasi dunia yang lebih luas. Aku belajar bahwa hidup tidak selalu sejalan dengan rutinitas harian di rumah. Ada pertanggungjawaban yang harus dijalani, pertemanan yang kadang menyakiti, dan tekanan yang tak selalu bisa diungkapkan. Namun setiap kali aku merasa letih, rumah selalu menjadi tempat teraman untuk kembali. Ibu akan menyodorkan camilan atau sekadar menanyakan, "Apa yang kamu pelajari di sekolah tadi?", sebuah pertanyaan sederhana yang terasa seperti pelukan hangat.


Menjelang akhir masa SMA, aku mulai memikirkan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Jujur, ada saat-saat aku ingin segera bekerja. Bukan karena aku malas untuk kuliah, tetapi karena aku ingin dengan cepat membantu keluarga. Aku menyadari bahwa kondisi ekonomi kami tidak selalu berada dalam keadaan stabil. Aku merasa menjadi beban jika harus dibiayai kuliah. Lagipula, aku ingin segera mandiri dan ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri tanpa perlu terus-menerus dilindungi.


Waktu itu, aku diam-diam mempersiapkan lamaran kerja untuk sebuah toko elektronik di kotaku. Namun, Ayah sudah tahu lebih dulu. Ia tidak merasa marah. Malam itu, kami duduk di teras rumah dalam cahaya lampu jalan yang redup. Ayah memandang ke depan, tidak langsung mengomentari. Kemudian ia berbicara dengan lembut,


“Jika kamu berhenti sekarang, kamu tidak akan pernah mengetahui sejauh mana kamu bisa melangkah.”


Pernyataan itu terpatri dalam ingatan. Aku terdiam lama pada malam itu. Keesokan harinya, aku memutuskan untuk membatalkan rencana bekerja dan mulai mencari jalur pendidikan tinggi.


Akhirnya, aku diterima di salah satu perguruan tinggi negeri. Namun, hal itu berarti aku harus pergi jauh dari rumah untuk pertama kalinya. Merantau. Hidup sendiri. Meninggalkan semua rutinitas yang selama ini mengisi hidupku. Tak ada lagi suara Ibu di pagi hari, tidak ada Ayah yang pulang dengan oleh-oleh kecil. Semua harus kulakukan secara mandiri.


Hari keberangkatanku menjadi momen yang tak akan pernah kulupakan. Ibu menyiapkan bekal dalam jumlah berlebih. Ayah tampak menahan tangis saat membantuku memasukkan tas ke dalam bagasi. Kami jarang berbicara. Tetapi pelukan mereka saat aku berpamitan terasa lebih dari sekadar perpisahan. Itu menunjukkan kepercayaan bahwa mereka melepaskanku, bukan karena tidak mencintai, tetapi karena percaya bahwa aku siap.


Menghadapi kehidupan sebagai perantau tidaklah mudah. Hari-hari pertamaku dipenuhi dengan rasa sepi. Aku harus belajar mencuci, memasak, menyetrika, mengatur keuangan, bahkan menghadapi rasa sakit seorang diri. Namun, di tengah semua itu, aku mulai menyadari kekuatan yang selama ini belum aku ketahui. Semua nilai yang Ibu dan Ayah ajarkan sejak kecil mulai tampak dalam kebiasaan sehari-hariku. Aku menjadi lebih disiplin, lebih mandiri, dan yang paling penting, lebih mampu bertahan dalam sepi.


Kadang-kadang, saat aku duduk di kamar kontrakan dengan tumpukan tugas dan perut yang lapar karena belum makan, aku hanya bisa tersenyum saat memikirkan rumah. Mengingat porsi nasi goreng buatan Ibu, atau tatapan Ayah yang selalu menepuk bahuku. Meskipun aku jauh, kasih sayang mereka seolah tetap menyelimutiku.


Aku menyadari, banyak anak di luar sana yang mungkin tidak memiliki cerita serupa. Banyak yang tidak berkesempatan merasakan hangatnya keluarga, atau yang dibesarkan dalam keheningan. Dan hal itu membuatku merasa begitu beruntung. Aku mungkin lahir prematur dianggap terlalu cepat, terlalu kecil, terlalu lemah. Namun, sejak awal, aku memiliki dua hal yang membuatku bertahan: tekadku sendiri dan cinta abadi dari keluargaku.


Hari ini, aku masih melangkah maju. Merancang masa depan, membangun mimpi perlahan-lahan. Dan setiap kali aku merasa goyah, aku cukup menutup mata dan mengingat, aku tidak pernah benar-benar sendirian. Di balik layar ponselku, terdapat pesan dari Ibu yang hanya berisi satu kata: “Hati-hati.” Di balik kondisi rekening yang hampir kosong, ada transfer kecil dari Ayah dengan catatan: “Untuk jajan kopi.”


Keluarga, bagiku, lebih dari sekadar tempat pulang. Mereka adalah alasan mengapa aku terus melangkah.


“Aku lahir kecil, tetapi tumbuh dalam cinta yang besar. Dan hal itu sudah cukup untuk membuatku kuat.”

(Diky Fahillah) 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama