Yang Tersisa Setelah Rumah Retak
Depok, PIXCELTULISAN - Banyak orang tidak menganggap tempat tinggal mereka sebagai “rumah”. Sebagian hanya melihatnya sebagai lokasi. Ada juga yang menyimpulkan bahwa itu hanyalah sebuah tempat untuk berlindung dari hujan. Aku, dalam waktu yang cukup lama, bahkan bingung untuk menentukan kata yang tepat untuk merujuknya.
Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang tidak utuh. Bukan disebabkan oleh kemiskinan atau sakit, melainkan karena dua orang yang dahulu saling menyayangi, kini tak mampu berbagi meja lagi. Banyak yang berkata bahwa ini hal yang biasa. Namun, bagi seorang anak, hal itu tidak pernah menjadi sesuatu yang biasa.
Orang tuaku berpisah saat aku masih di sekolah dasar. Prosesnya berlangsung tenang, tanpa pertengkaran atau ledakan emosional. Tak ada piring yang pecah atau teriakan dari dalam rumah. Hanya kesunyian yang panjang, beserta wajah Ibu yang selalu sembab setiap pagi. Kemudian suatu ketika, Ayah tidak kembali. Sejak saat itu, segalanya terasa berbeda.
Aku mulanya beranggapan bahwa Ayah pergi untuk tugas luar kota seperti biasanya. Tapi waktu berlalu, dan baju-bajunya tetap tergantung di dalam lemari, tidak pernah tersentuh. Aku mulai menyadari bahwa rumah kami sekarang hanya akan dipenuhi satu suara orang dewasa: suara Ibu. Terkadang lembut, terkadang lelah, bahkan kadang bergetar.
Aku berusaha kuat, atau setidaknya berpura-pura demikian. Namun di dalam hati, aku mempertanyakan diri: apa yang salah dariku? Apakah aku terlalu nakal? Apakah nilai-nilaiku yang buruk menjadi penyebab? Pikiran-pikiran ini menjadi beban yang berat yang tumbuh bersamaan dengan tubuhku.
Namun, di balik semua kesakitan, ada beberapa hal kecil yang membuatku tetap berdiri. Ibu. Dia memang sering menangis di malam hari, tetapi keesokan harinya, ia selalu bangun lebih awal. Menyiapkan sarapan, menyisir rambutku, dan menyelipkan uang jajan di dalam kantong bajuku. Ia tidak banyak berbicara, tetapi matanya selalu mengatakan: “Kamu harus terus melangkah.”
Ayah juga tidak sepenuhnya menghilang. Kami masih kadang bertemu, meskipun tidak sefrekuen dulu. Ia datang saat hari ulang tahunku, sesekali mengajakku untuk makan atau membelikanku buku. Namun, cerita sebelum tidur sudah tidak ada lagi, dan suara kunci rumah tidak lagi terdengar setiap malam.
Dulu, aku merasa marah. Marah kepada mereka, pada hidup, dan pada semua yang memaksaku hidup di antara dua rumah. Namun, sedikit demi sedikit, aku mulai belajar keluarga tidak harus tinggal di bawah atap yang sama untuk memiliki tempat di dalam hati.
Aku mulai menemukan arti keluarga dalam wujud lain. Dalam Ibu yang tidak pernah menyerah meskipun harus bekerja jauh lebih keras. Dalam Ayah yang kini lebih sering mengirim pesan panjang setiap kali aku sakit. Dalam diriku sendiri, yang kini menyadari bahwa rumah bisa dibangun dari keikhlasan, bukan hanya dari kebersamaan fisik.
Kini, aku menuntut ilmu jauh dari keduanya. Tidak tinggal dengan Ibu, dan juga tidak dengan Ayah. Namun, anehnya, untuk kali pertama aku merasa utuh. Mungkin karena aku telah berhenti menyalahkan. Mungkin karena aku mulai menerima bahwa keluarga tidak selalu harus lengkap, asalkan tetap saling peduli.
Di hari-hari sepi, aku kadang masih menangis. Tapi sekarang bukan lagi karena luka lama. Melainkan karena rindu terhadap momen-momen kecil yang dulu terlewatkan sarapan bersama, bercanda sebelum tidur, atau duduk menonton acara TV yang sama sambil berebut bantal.
Dan saya menyadari, meskipun tempat tinggalku dulu mengalami kerusakan, dari sisa-sisa itu aku menemukan cara untuk menciptakan definisi baru tentang keluarga yang mungkin tidak sempurna, tetapi sangat autentik.
"Keluarga tidak perlu lengkap, tetapi tetap dapat saling menyokong. Meskipun tidak tinggal dalam satu atap lagi, saya paham mereka masih menyayangi saya dengan cara mereka sendiri."
(Diky Fahillah)
Tags
Feature
